Sementara menurut Biak Resada Ginting,
seorang pemerhati sejarah dan pemegang sastra lisan Karo, keberadaan
Putri Hijau bukan sekadar legenda. Ia adalah seorang ratu yang
memerintah Kerajaan Haru atau Ale (dalam bahasa Karo) sekitar tahun 1594
Masehi. Saat itu Putri Hijau tersebut masih beragama kepercayaan nenek
moyang dengan bertuhankan Dibata Si Mula Jadi. "Artinya adalah
Tuhan yang maha pertama dan paling akhir, hanya Dia yang tetap hidup,"
kata Biak, yang menguasai ceritera tentang Kerajaan Haru dan Karo secara
lisan dan turun-temurun dari nenek moyangnya.Sementara pada saat
bersamaan, di Kesultanan Aceh berkuasalah Sultan Iskandar Muda yang
telah beragama Islam. Suatu saat, Iskandar Muda mengirimkan utusannya
untuk menyampaikan surat
kepada Putri Hijau yang berisi tiga hal.Pertama, hendaknya Putri Hijau
bersedia menjadi permaisuri Sultan Iskandar Muda. Kedua, Aceh adalah
Serambi Mekkah dan Haru adalah Serambi Aceh, itu berarti Haru diminta
untuk tunduk kepada Aceh. Jika Haru tidak mengindahkan kedua hal
tersebut, maka dalam pesan yang ketiga disebutkan bahwa Aceh akan
menyebarkan agama Islam di Haru."Reaksi Putri Hijau tentu saja menolak
dengan alasan tidak ada satu kerajaan pun yang dapat menguasai Haru.
Mendengar reaksi tersebut, Iskandar Muda mengirimkan Panglima Gocah
untuk menyerang Haru," kata Biak.Peperangan antara Aceh dengan Haru
berlangsung sekitar satu setengah bulan lamanya. Pasukan Haru dapat
dipukul mundur sehingga Istana Haru dapat dikuasai. Sementara Putri
Hijau sendiri ikut gugur dalam peperangan itu."Tidak benar kalau Putri
Hijau itu hilang begitu saja. Apalagi legenda yang menyebutkan Putri
Hijau dibawa ke Aceh dengan menggunakan peti kaca. Tak rasional itu.
Sesakti apa pun orang zaman dulu, tetap saja harus bernapas," .
Sementara itu, mengenai keberadaan Meriam Puntung, Biak mengatakan,
mungkin hanya terdapat satu meriam yang paling diandalkan di Kerajaan
Haru ketika melawan bala tentara Aceh. Meriam itu digunakan secara
terus-menerus selama berminggu-minggu hingga putus dan pecah, dan
pecahan meriam buntung tersebut kini berada di desa Suka Nalu kecamatan
Barus Jahe, menurut penduduk desa Suka Nalu, konon pecahan meriam yang
berada di Desa Suka Nalu tersebut, pernah di coba untuk di bawa ke
museum di medan, tetapi besok nya pecahan meriam itu kembali lagi ke
tempat nya semula yaitu di desa Suk.
Sumber: http://sipesikapkutakemulihenta.blogspot.com/2009/05/legenda-meriam-buntung-suka-nalu-putri.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar